Pacet, Kampus Ursulin — SMP Santo Yusup mengadakan kegiatan Kokurikuler Resilience Week 2026 yang dilaksanakan pada tanggal 11–18 Mei 2026 dengan tema “Bertekun Sampai Akhir: Membangun Daya Juang dalam Belajar, Moderasi, dan Ekologi.” Kegiatan ini bertujuan untuk melatih siswa agar memiliki semangat pantang menyerah, mampu bekerja sama, serta peduli terhadap lingkungan sekitar melalui berbagai aksi nyata.
Dalam kegiatan tersebut, siswa kelas VIII B Kelompok 2 melaksanakan program bertema daur ulang sampah anorganik menjadi berkah yang akhirnya diberi nama “Trash to Cash.” Program ini berfokus pada pengumpulan dan penjualan sampah plastik agar memiliki nilai ekonomi sekaligus membantu menjaga kebersihan lingkungan.
Pada awal perencanaan, kelompok kami sebenarnya ingin membuat program “Magocycle”, yaitu tempat penguraian sampah organik menggunakan magot. Namun, setelah melakukan diskusi dan evaluasi bersama, muncul banyak kendala, kontrovesri dan perbedaan pendapat di dalam kelompok. Beberapa anggota merasa kesulitan dalam proses perawatan magot serta pengelolaan alat dan bahan yang cukup rumit.
Karena itu, kelompok sempat mengganti ide dengan mengolah sampah menjadi karya-karya kreatif. Akan tetapi, dalam proses pendampingan, salah satu guru pendamping yakni Arinda Erlina, S.Pd. memberikan masukan bahwa akan lebih baik jika sampah botol yang dikumpulkan dijual kepada pihak We-Hasta agar dapat menghasilkan pendapatan yang bermanfaat bagi sekolah. Uang hasil penjualan nantinya dapat dimasukkan ke kas sekolah dan digunakan untuk membeli barang-barang berguna, seperti alat kebersihan dan kebutuhan lingkungan sekolah lainnya.
Masukan tersebut diterima dengan senang hati oleh kelompok kami. Dari situlah lahir program “Trash to Cash”, yaitu aksi pengumpulan, pemilahan, dan penjualan sampah plastik agar menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.
Sampah yang dikumpulkan berupa botol air mineral, botol Milku, Teh Pucuk, botol susu UHT, serta gelas plastik seperti Teh Gelas, Ale-Ale, dan Teh Rio. Sampah tersebut dipilah berdasarkan jenisnya sebelum dijual kepada pengepul atau pihak We-Hasta. Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa sampah yang sering dianggap tidak berguna ternyata masih memiliki nilai jual apabila dikelola dengan baik.
Kegiatan ini juga melatih kerja sama, tanggung jawab, dan daya juang siswa dalam menyelesaikan program sampai akhir. Selain membantu menjaga kebersihan lingkungan, program ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa untuk mulai memilah sampah sejak dini.
Salah satu teman memberikan apresiasi terhadap ide yang dilakukan kelompok kami.
“Saya kagum dengan ide yang dilakukan kelompok ini karena tidak hanya membantu menjaga lingkungan, tetapi juga bisa menghasilkan uang dari barang yang sering dianggap sampah,” ujar Dewi Sekar Ruhmi Widiyuana, siswi kelas VIII-A.
Melalui program Trash to Cash, Kelompok 2 VIII B berharap siswa-siswi lain dapat terinspirasi untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi bersama.
Putri Kasih Indah Suryani