Pacet, Kampus Ursulin – Kesadaran akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana terus ditanamkan kepada peserta didik sejak dini. Dalam rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027, SMP Santo Yusup Pacet bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menyelenggarakan kegiatan edukasi mitigasi bencana pada Senin (20/7). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta didik sebagai upaya membangun budaya tangguh bencana di lingkungan sekolah.
Berlokasi di kawasan lereng pegunungan, SMP Santo Yusup Pacet memiliki karakteristik wilayah yang perlu dipahami oleh seluruh warga sekolah. Oleh karena itu, peserta didik diajak mengenali berbagai potensi bencana yang mungkin terjadi di lingkungan sekolah, di antaranya gempa bumi dan kebakaran. Melalui sosialisasi ini, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai risiko bencana, tetapi juga dibekali keterampilan untuk mengambil tindakan yang tepat saat keadaan darurat.
Tim BPBD Kabupaten Mojokerto menjelaskan langkah-langkah penyelamatan diri ketika terjadi gempa bumi, mulai dari menjaga ketenangan, melakukan perlindungan diri di tempat yang aman, hingga prosedur evakuasi menuju titik kumpul setelah guncangan berhenti. Peserta didik juga diajak memahami pentingnya mengikuti arahan petugas agar proses evakuasi berlangsung tertib, cepat, dan aman.

Selain materi mitigasi gempa, BPBD memberikan pelatihan dasar penanganan kebakaran melalui demonstrasi penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Para peserta diperkenalkan dengan fungsi APAR, jenis kebakaran yang dapat ditangani, hingga teknik penggunaannya secara benar agar mampu memberikan respons awal sebelum api membesar.
Suasana semakin hidup ketika peserta didik diberi kesempatan untuk mempraktikkan langsung penggunaan APAR. Salah satu peserta didik baru, Genta, tampak antusias saat maju mencoba memadamkan api di bawah pendampingan petugas BPBD. Dengan penuh percaya diri, ia mengikuti setiap instruksi yang diberikan hingga berhasil menggunakan APAR sesuai prosedur. Aksi tersebut mendapat apresiasi dan tepuk tangan dari teman-temannya, sekaligus menjadi motivasi bagi peserta didik lain untuk berani belajar menghadapi situasi darurat.
Sepanjang kegiatan berlangsung, peserta didik menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Mereka aktif mengajukan pertanyaan, berdiskusi dengan narasumber, serta mengikuti simulasi dengan penuh perhatian. Pendekatan pembelajaran yang memadukan teori dan praktik membuat materi mitigasi bencana lebih mudah dipahami sekaligus memberikan pengalaman nyata yang dapat diterapkan apabila sewaktu-waktu menghadapi kondisi darurat.
Kepala SMP Santo Yusup Pacet menyampaikan bahwa pendidikan mitigasi bencana merupakan bagian penting dalam membangun lingkungan sekolah yang aman dan siap menghadapi berbagai kemungkinan. Menurutnya, pengetahuan mengenai kebencanaan tidak hanya menjadi bekal bagi peserta didik selama berada di sekolah, tetapi juga dapat diterapkan di rumah maupun di lingkungan masyarakat.
"Kami berharap kegiatan ini mampu menumbuhkan budaya sadar bencana di lingkungan SMP Santo Yusup Pacet. Bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh hari ini diharapkan membuat seluruh warga sekolah lebih sigap, tidak panik saat menghadapi keadaan darurat, serta mampu melindungi diri sendiri maupun membantu orang lain sesuai prosedur yang benar. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama, dan kesiapsiagaan harus dibangun melalui edukasi yang berkelanjutan," ujar Kepala Sekolah.
Melalui kolaborasi dengan BPBD Kabupaten Mojokerto, SMP Santo Yusup Pacet menegaskan komitmennya untuk menghadirkan lingkungan belajar yang tidak hanya mendukung perkembangan akademik, tetapi juga membekali peserta didik dengan keterampilan hidup yang esensial. Edukasi mitigasi bencana menjadi langkah nyata dalam membentuk generasi yang tangguh, peduli, dan siap menghadapi berbagai tantangan, sehingga tercipta budaya sekolah yang lebih aman, responsif, dan berdaya menghadapi risiko bencana. (aer)