
Pacet, Kampus Ursulin – Komitmen SMP Santo Yusup Pacet dalam meningkatkan kualitas pembelajaran terus diperkuat pada hari kedua Rapat Kerja (RAKER) Tahun Ajaran 2026/2027. Melalui sesi khusus bertajuk Peningkatan Kompetensi Numerasi dan Pemahaman Pembelajaran Mendalam (Deep Learning), Pengawas Dinas Pendidikan, Hj. Lilik Hariani, S.Pd., M.Pd., mengajak seluruh guru melakukan refleksi berdasarkan data capaian peserta didik sekaligus memperkuat implementasi kebijakan pendidikan nasional.
Dalam pemaparannya, Hj. Lilik Hariani menegaskan bahwa penguatan numerasi dan literasi bukan sekadar program sekolah, melainkan amanat yang sejalan dengan kebijakan pemerintah. Hal tersebut berlandaskan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menegaskan bahwa pendidikan bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta mampu berkontribusi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain itu, Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan menegaskan bahwa penyelenggaraan pendidikan harus berorientasi pada pencapaian kompetensi peserta didik melalui standar proses, standar kompetensi lulusan, dan penilaian yang berkualitas sebagai bagian dari peningkatan mutu pendidikan nasional.
Sebagai dasar evaluasi, Hj. Lilik Hariani memaparkan hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) SMP Santo Yusup Pacet. Data menunjukkan bahwa capaian tertinggi peserta didik pada bidang Numerasi berada pada angka 80,00, sedangkan capaian tertinggi pada bidang Literasi mencapai 96,67. Capaian tersebut menunjukkan potensi yang baik, namun sekaligus menjadi pijakan untuk terus meningkatkan kualitas pembelajaran agar semakin merata pada seluruh peserta didik.
Beliau juga mengajak seluruh guru mencermati data nasional yang menunjukkan bahwa 8 dari 10 peserta didik kelas IX di Indonesia belum mampu menggunakan konsep bilangan dan operasi hitung untuk menyelesaikan permasalahan nyata pada tingkat kompetensi minimum. Fakta tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan numerasi harus dibangun secara berkelanjutan melalui seluruh mata pelajaran, bukan hanya pada pembelajaran Matematika.
"Oleh karena itu, setiap guru perlu menghadirkan pembelajaran yang membiasakan peserta didik membaca tabel, memahami grafik, mengolah data, menganalisis informasi, hingga menggunakan angka sebagai dasar dalam mengambil keputusan," ungkap Hj. Lilik Hariani di hadapan seluruh peserta workshop.
Selain numerasi, budaya literasi juga menjadi perhatian utama. Menurut beliau, kemampuan membaca, memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi informasi merupakan fondasi penting dalam membentuk peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu memecahkan berbagai persoalan kehidupan. Karena itu, kegiatan literasi yang selama ini telah menjadi budaya di SMP Santo Yusup Pacet perlu terus diperkuat melalui berbagai inovasi yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran.
Diskusi berlangsung dinamis ketika para guru bersama-sama mengevaluasi praktik pembelajaran yang telah diterapkan. Berbagai gagasan inovatif bermunculan, mulai dari penggunaan data aktual dalam pembelajaran, analisis infografis dan grafik pada berbagai mata pelajaran, penyelesaian masalah berbasis proyek (project-based learning), hingga pembiasaan peserta didik melakukan interpretasi data sebagai bagian dari aktivitas belajar sehari-hari.
Melalui sesi pembinaan ini, seluruh pendidik semakin memahami bahwa pembelajaran mendalam (deep learning) tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi juga menumbuhkan kemampuan peserta didik untuk berpikir analitis, menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata, serta mampu menghasilkan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi.
Semangat refleksi berbasis data yang dibangun dalam RAKER hari kedua menjadi komitmen bersama SMP Santo Yusup Pacet untuk terus meningkatkan mutu pendidikan. Dengan memperkuat budaya numerasi, literasi, dan pembelajaran mendalam sesuai arah kebijakan nasional, sekolah optimis dapat mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, adaptif, dan siap menghadapi tantangan abad ke-21. (aer)
Sumber :