Pacet, Kampus Ursulin - SMP Santo Yusup Pacet melaksanakan kegiatan Kokurikuler Tahun Ajaran 2026/2027 pada tanggal 11–18 Mei 2026 dengan tema “Berkarya Sampai Akhir Membangun Daya Juang dalam Belajar Moderasi dan Ekologi.” Kegiatan ini bertujuan untuk membentuk karakter siswa agar memiliki semangat pantang menyerah, mampu bekerja sama, menghargai keberagaman, serta peduli terhadap lingkungan sekitar.
Salah satu kelompok yang mengikuti kegiatan tersebut adalah kelompok Bunga Serunai dari kelas VIIIA yang beranggotakan sembilan siswa, yaitu Javanna, Vina, Angel, Nanda, Rafa, Sendi, Nico, Fajar, dan Deny. Nama Bunga Serunai dipilih sebagai simbol ketekunan, keindahan, dan semangat untuk terus bertumbuh bersama. Selain digunakan sebagai identitas kelompok saat pengerjaan LKPD, bunga serunai juga dipilih sebagai bunga persembahan dalam ibadat penutup kegiatan kokurikuler.
Dalam kegiatan ini, kelompok Bunga Serunai mengangkat proyek bertema “Ecobrick for Better Earth” dengan membuat meja sederhana dari ecobrick sebagai bentuk aksi nyata dalam mengurangi sampah plastik di lingkungan sekolah maupun rumah.
Pada hari pertama, kegiatan dilaksanakan di Aula Santo Yusup. Seluruh siswa mengikuti kegiatan literasi, pengumuman kelompok, serta perencanaan aksi nyata yang akan dilakukan selama kegiatan kokurikuler berlangsung. Dalam kegiatan tersebut, setiap kelompok mulai berdiskusi mengenai ide karya yang akan dibuat, pembagian tugas anggota, serta langkah-langkah pelaksanaan proyek yang akan diselesaikan sampai akhir. Suasana kegiatan berlangsung dengan tertib dan penuh semangat karena seluruh siswa mulai mempersiapkan karya terbaik mereka.
Hari kedua dilaksanakan di Aula Bintang Kejora dengan materi moderasi beragama dalam pertobatan ekologis. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber dari agama yang berbeda, yaitu Ahmad Ropii dari agama Islam, Pdt. Karunia Zebua dari agama Kristen, dan RD Yustinis Suyatno dari agama Katolik. Ketiga narasumber menyampaikan bahwa seluruh agama mengajarkan manusia untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan.
Dalam pemaparan materi agama Islam, Ahmad Ropii menjelaskan ayat Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 3–4 yang mengajarkan tentang orang-orang beriman yang percaya kepada Allah, melaksanakan kebaikan, serta menaati perintah-Nya. Beliau menjelaskan bahwa arti dari ayat tersebut adalah manusia harus menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan menjaga apa yang telah Tuhan berikan, termasuk menjaga kebersihan lingkungan dan alam sekitar.
Ahmad Ropii juga menyampaikan secara langsung,
“Menjaga lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau sekolah, tetapi tanggung jawab kita bersama sebagai manusia yang beriman. Kalau lingkungan bersih, hidup kita juga menjadi sehat dan nyaman.”
Sementara itu, dalam pemaparan agama Kristen dan Katolik, Pdt. Karunia Zebua dan RD Yustinis Suyatno menyampaikan ayat Alkitab Kejadian 1:31 yang berbunyi, “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Ayat tersebut memiliki arti bahwa seluruh ciptaan Tuhan, termasuk bumi dan lingkungan hidup, diciptakan dengan baik sehingga manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan melestarikannya agar tetap bersih dan lestari.
Melalui kegiatan moderasi beragama ini, para siswa belajar bahwa meskipun memiliki agama yang berbeda, seluruh umat diajarkan nilai yang sama, yaitu menjaga kebersihan, merawat lingkungan, serta hidup berdampingan dengan damai dan saling menghormati. Setelah pemaparan materi selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pengendapan materi dan penjelasan LKPD yang akan digunakan siswa selama kegiatan kokurikuler berlangsung.
Pada hari ketiga, siswa mengikuti pemaparan narasumber dari pihak WeHasta mengenai pengolahan sampah dan pemanfaatan limbah organik. Materi yang diberikan meliputi cara membuat kompos dari kotoran hewan, pemilahan sampah, pembuatan kompos dari sampah organik, serta pembuatan pelet makanan ternak dari sampah organik. Setelah menerima materi, seluruh siswa melakukan praktik percobaan di Taman Bintang Kejora. Melalui praktik tersebut, siswa belajar secara langsung mengenai cara mengolah sampah agar memiliki nilai manfaat bagi lingkungan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pemantapan aksi nyata di kelas masing-masing.
Hari keempat dimulai dengan kegiatan senam bersama di Lapangan SMP Santo Yusup Pacet untuk membangun semangat dan kebersamaan antar siswa. Setelah itu, siswa memasuki tahap produksi karya di kelas masing-masing. Kelompok Bunga Serunai mulai menyusun ecobrick yang telah dibuat menjadi sebuah meja dan kursi sederhana. Seluruh anggota kelompok bekerja sama mengumpulkan botol plastik, membersihkan sampah plastik, memotong plastik menjadi bagian kecil, lalu memadatkannya ke dalam botol hingga menjadi ecobrick yang siap digunakan.
Selama proses pengerjaan, kelompok Bunga Serunai mengalami beberapa hambatan, salah satunya adalah beberapa ecobrick yang masih kurang padat sehingga membutuhkan waktu lebih lama dalam proses pengerjaan. Namun, seluruh anggota kelompok tetap bekerja sama dan berusaha menyelesaikan karya mereka dengan baik sesuai tema kokurikuler, yaitu berkarya sampai akhir.
Pada hari kelima, seluruh kelompok melaksanakan presentasi hasil produksi di Taman Bintang Kejora. Kelompok Bunga Serunai mempresentasikan meja dan kurai ecobrick hasil karya mereka di hadapan guru, siswa, dan kepala sekolah SMP Santo Yusup Pacet. Hasil karya tersebut mendapat apresiasi dari Kepala SMP Santo Yusup Pacet, Yohanes Bayu Prasetyo, S.Pd. Dalam sesi unjuk karya beliau menyampaikan,
“Meja ecobrick yang dibuat ini sudah bagus dan kreatif. Kalian sudah menunjukkan kerja sama dan kepedulian terhadap lingkungan melalui karya ini. Namun, ecobrick yang digunakan masih kurang padat sehingga ke depannya perlu dibuat lebih kuat agar hasilnya semakin maksimal.”
Masukan tersebut menjadi pengalaman dan pembelajaran berharga bagi anggota kelompok agar dapat memperbaiki hasil karya mereka di masa mendatang. Walaupun masih terdapat kekurangan, kelompok Bunga Serunai berhasil menyelesaikan proyek mereka dengan baik dan penuh tanggung jawab.
Sebagai penutup seluruh rangkaian kegiatan kokurikuler, seluruh siswa dan guru mengikuti kegiatan penutupan, apresiasi karya, dan ibadat bersama di Taman Bintang Kejora. Dalam ibadat tersebut, kelompok Bunga Serunai mempersembahkan bunga serunai sebagai simbol rasa syukur, ketekunan, dan harapan agar semangat menjaga lingkungan terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ibadat dilaksanakan dengan penuh kekhidmatan sebagai bentuk rasa syukur atas kelancaran seluruh kegiatan yang telah berlangsung selama satu minggu.
Melalui kegiatan Kokurikuler ini, SMP Santo Yusup Pacet berharap seluruh siswa dapat semakin peduli terhadap lingkungan, menghargai keberagaman antarumat beragama, serta memiliki semangat daya juang dalam menyelesaikan setiap tanggung jawab. Selain menghasilkan karya berupa meja ecobrick, kegiatan ini juga menjadi pengalaman berharga bagi siswa dalam menerapkan nilai moderasi, kreativitas, dan kepedulian terhadap bumi dalam kehidupan sehari-hari.
Javanna Lethisya Ernestine Ezra Sanwica - VIIIA