News &
Updates

News Image

Share

Menumbuhkan Akar Pendidikan untuk Mewujudkan Pembelajaran STEM yang Menarik dan Bermakna
9 Juli 2026

Pacet, Kampus Ursulin – Memasuki hari keempat Rapat Kerja (RAKER) Tahun Ajaran 2026/2027, SMP Santo Yusup Pacet kembali memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran melalui workshop bertema "Pembelajaran Menarik dan Bermakna Berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics)." Kegiatan yang diikuti oleh seluruh guru ini menghadirkan Dr. Ignatius Agus Budiono, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber yang membagikan gagasan mengenai transformasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan peserta didik abad ke-21.

Berbeda dengan workshop pada umumnya yang langsung membahas strategi pembelajaran, sesi kali ini diawali dengan sebuah refleksi mendalam mengenai filosofi pendidikan melalui konsep Alur Inkubator HEDI (Holistic Educational Design Incubator). Dengan menggunakan analogi sebuah pohon, Dr. Ignatius mengajak seluruh peserta memahami bahwa perubahan dalam pendidikan tidak dapat dimulai dari hasil akhir, melainkan harus diawali dengan membangun akar yang kuat.

"Buah yang baik hanya dapat dihasilkan oleh pohon yang memiliki akar yang kuat," menjadi pesan utama yang mengawali sesi refleksi.

Dalam pemaparannya, Dr. Ignatius menjelaskan bahwa Tahap Akar (The Angela Encounters) merupakan fondasi utama yang harus dimiliki setiap pendidik. Tahapan ini menekankan pentingnya pengondisian jiwa, karakter, dan nilai-nilai dasar sebagai pendidik melalui refleksi mendalam terhadap Pedagogi Santa Angela, yakni cinta kasih, pastoral care, semangat Serviam, serta penghargaan terhadap keunikan setiap peserta didik. Pada tahap ini pula, teknologi dipahami bukan sebagai tujuan pembelajaran, melainkan sebagai alat untuk melayani kebutuhan belajar setiap anak sesuai potensinya.

Setelah fondasi tersebut terbentuk, proses berlanjut menuju Tahap Batang, yaitu perancangan pembelajaran berbasis proyek melalui pendekatan Deep STEM–Project Based Learning (STEM-PjBL). Pada tahap ini guru diajak menyusun pengalaman belajar yang berangkat dari permasalahan nyata di lingkungan sekitar sehingga peserta didik tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan menghasilkan solusi yang berdampak.

Tahap berikutnya adalah Tahap Buah, yaitu fase ketika seluruh proses pembelajaran menghasilkan dampak yang berkelanjutan. Melalui proses Designing for Permanence dan Transformasi, pembelajaran dirancang agar mampu melekat dalam ingatan jangka panjang peserta didik, membangun kreativitas, serta mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat. Hasil akhir yang diharapkan bukan sekadar nilai akademik, melainkan peserta didik yang memiliki kemandirian intelektual, kebebasan finansial melalui penguasaan keterampilan bernilai tinggi, serta mampu bertransformasi dari sekadar konsumen informasi menjadi pencipta solusi.

Memasuki sesi inti, para guru diajak mengenal lebih dalam implementasi STEM sebagai pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics ke dalam satu pengalaman belajar yang utuh. Dr. Ignatius menekankan bahwa pembelajaran STEM bukan sekadar menggabungkan empat disiplin ilmu, tetapi menghadirkan proses belajar yang kontekstual, menantang, dan dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga mereka terdorong untuk mengeksplorasi, meneliti, merancang, mencoba, memperbaiki, hingga menemukan solusi atas berbagai persoalan nyata.

Menurutnya, pembelajaran yang bermakna lahir ketika peserta didik diberi kesempatan untuk mengalami sendiri proses belajar, bukan hanya menerima informasi dari guru. Oleh karena itu, guru diharapkan mampu merancang aktivitas yang memfasilitasi rasa ingin tahu, kreativitas, kolaborasi, serta kemampuan memecahkan masalah sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Suasana workshop berlangsung interaktif. Para guru aktif berdiskusi, merefleksikan praktik pembelajaran yang telah dilakukan, sekaligus merancang berbagai inovasi yang dapat diterapkan di kelas pada tahun ajaran mendatang. Berbagai ide muncul untuk mengintegrasikan pendekatan STEM dengan nilai-nilai Serviam sehingga pembelajaran tidak hanya menghasilkan peserta didik yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian sosial, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan zaman.

Melalui workshop ini, SMP Santo Yusup Pacet kembali menegaskan komitmennya untuk terus bertransformasi menghadirkan pembelajaran yang menarik, bermakna, dan berpusat pada peserta didik. Berbekal filosofi Alur Inkubator HEDI, seluruh guru diharapkan menjadi akar yang kokoh dalam menumbuhkan generasi masa depan yang berkarakter, inovatif, serta mampu menghadapi tantangan abad ke-21 dengan semangat melayani (Serviam). (aer)