News &
Updates

News Image

Share

CapZym Press: Inovasi Kreatif Siswa VIII-A Ubah Sampah Jadi Karya Bernilai.
29 Mei 2026

Pacet, Kampus Ursulin — SMP Santo Yusup Pacet, semangat kreativitas dan kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan oleh siswa kelas VIII-A Kelompok 3 SMP Santo Yusup Pacet melalui kegiatan kokurikuler semester 2 yang berlangsung pada 11–19 Mei 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Bertekun Sampai Akhir: Membangun Daya Juang dalam Belajar, Moderasi, dan Ekologi” dengan menghadirkan proyek inovasi lingkungan bernama CapZym Press. Proyek tersebut dibuat sebagai bentuk solusi atas banyaknya sampah plastik dan sisa makanan yang belum terkelola dengan baik di lingkungan sekitar sekolah.

Kegiatan diawali pada 11 Mei 2026 melalui sesi literasi, pembagian kelompok, serta pengerjaan lembar kerja proyek kokurikuler. Pada tahap awal ini, siswa mulai berdiskusi mengenai berbagai permasalahan lingkungan yang ada di sekitar mereka sekaligus mencari solusi yang dapat diwujudkan menjadi sebuah karya nyata.

Hari kedua diisi dengan kegiatan moderasi beragama yang berlangsung aktif dan interaktif. Dalam sesi tersebut, salah satu anggota kelompok menunjukkan keberanian dan rasa percaya dirinya dengan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada pemateri sehingga suasana diskusi menjadi lebih hidup dan komunikatif.

Kegiatan semakin menarik pada hari ketiga ketika seluruh peserta mengikuti demonstrasi langsung bersama narasumber dari Wehasta. Dalam kegiatan tersebut, siswa mempelajari berbagai bentuk pengelolaan lingkungan, mulai dari pengolahan sampah organik secara anaerob, pemanfaatan sampah organik menjadi pakan ternak, pengolahan pupuk kompos melalui kotoran hewan, hingga memilah jenis sampah yang masih memiliki nilai jual. Dari kegiatan tersebut, siswa memperoleh banyak wawasan baru mengenai pentingnya pengelolaan sampah yang ramah lingkungan sekaligus bernilai ekonomis.

Berangkat dari pengalaman dan pembelajaran tersebut, kelompok mulai merancang produk inovasi mereka. Awalnya, terdapat banyak ide yang diajukan oleh anggota kelompok, mulai dari berbagai konsep pengolahan sampah hingga pemanfaatan barang bekas lainnya. Namun, setelah berdiskusi bersama guru pembimbing, siswa mendapatkan banyak masukan untuk memilih ide yang paling efektif, realistis, dan bermanfaat bagi lingkungan sekolah. Dari berbagai usulan tersebut, akhirnya dipilihlah proyek CapZym Press sebagai produk utama kelompok.

CapZym Press memiliki tiga konsep utama, yaitu Cap yang memanfaatkan tutup botol menjadi barang bernilai guna seperti gantungan kunci, Zym yang mengolah sampah organik menjadi ecoenzym atau kompos anaerob, serta Press yang digunakan untuk mengepress botol plastik agar lebih mudah didaur ulang.

Proses pengerjaan dilakukan secara bertahap melalui diskusi daring maupun kerja langsung di sekolah. Seluruh anggota kelompok mendapat tugas masing-masing sehingga kerja sama, tanggung jawab, dan komunikasi antaranggota semakin terlihat selama proses berlangsung. Hasil karya yang telah selesai kemudian dipamerkan dalam kegiatan unjuk karya kokurikuler dan beberapa hasil olahan tutup botol bahkan berhasil dijual kembali karena memiliki bentuk yang menarik dan bernilai guna.

Hal paling menarik dari proyek ini adalah kreativitas siswa dalam mengubah barang yang sering dianggap sampah menjadi produk yang bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi. Inovasi tersebut mendapat banyak perhatian dari guru maupun siswa lainnya.

“Saya benar-benar kagum, ternyata hal sederhana seperti tutup botol dan sampah organik bisa diolah menjadi sesuatu yang sangat berguna dan bernilai." ujar Kasih salku siswa kelas VIII-B dengan penuh antusias.

Selama proses pelaksanaan, kelompok juga menghadapi beberapa kendala seperti kurangnya persiapan alat, ukuran penutup yang kurang sesuai, hingga pembagian waktu yang belum optimal. Namun, melalui komunikasi yang baik dan kerja sama antarsiswa, seluruh hambatan tersebut dapat diatasi bersama.

Melalui kegiatan kokurikuler ini, siswa tidak hanya belajar menjaga lingkungan, tetapi juga belajar berpikir kreatif, bekerja sama, berani menyampaikan pendapat, serta memahami bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai bagi masyarakat sekitar.