News &
Updates

News Image

Share

Bahasa Gaul: Tren Kekinian yang Mengikis Identitas Bahasa Indonesia
11 Maret 2025

Bahasa Indonesia terus berkembang seiring dengan perubahan zaman. Namun, belakangan ini, muncul kekhawatiran terhadap maraknya penggunaan bahasa gaul yang semakin jauh dari kaidah bahasa baku. Generasi muda, terutama mereka yang aktif di media sosial, kini lebih sering menggunakan istilah-istilah baru yang sering kali sulit dipahami oleh generasi sebelumnya.

Media sosial telah melahirkan berbagai istilah yang menjadi bagian dari percakapan sehari-hari seperti skibidi, sigma, rizz, mewing, cegil, alay, HTS (hubungan tanpa status), cut off, dan lain-lain. 

Tanpa disadari, kata-kata ini mulai menggantikan bahasa Indonesia yang baku, bahkan dalam situasi formal. Hal ini tentu berdampak terhadap identitas bahasa Indonesia, seperti:

1. Menurunnya Kemampuan Berbahasa Baku

Siswa yang terlalu sering menggunakan bahasa gaul cenderung kesulitan menulis dan berbicara dalam bahasa baku, terutama dalam konteks akademik.

2. Melemahkan Identitas Bahasa Indonesia

Jika tren ini terus berlanjut, dikhawatirkan bahasa Indonesia akan semakin tercampur dengan istilah asing dan singkatan yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa.

3. Kurangnya Kesadaran Akan Keindahan Bahasa Indonesia

Generasi muda lebih tertarik menggunakan bahasa yang sedang tren dibandingkan dengan memperkaya kosakata bahasa Indonesia yang sesungguhnya kaya dan beragam. 

Fenomena ini menuai berbagai tanggapan. Sejumlah akademisi menilai bahwa perkembangan bahasa gaul adalah hal yang wajar, tetapi perlu dikontrol agar tidak menghilangkan esensi bahasa Indonesia itu sendiri.

“Kalau dibiarkan terus-menerus, kita bisa kehilangan identitas bahasa kita sendiri. Generasi muda harus sadar bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga cerminan budaya dan jati diri bangsa,” ujar seorang dosen linguistik dalam seminar kebahasaan di Jakarta.

Sementara itu, di media sosial, muncul berbagai perdebatan mengenai apakah bahasa gaul ini merusak atau justru memperkaya bahasa Indonesia. Beberapa netizen bahkan mengkritik generasi muda yang terlalu sering menggunakan bahasa gaul, dengan menyebut mereka tidak lagi mampu berbicara dengan bahasa yang baik dan benar.

Meskipun bahasa terus berkembang, penting bagi generasi muda untuk tetap memahami dan menghargai bahasa Indonesia. Agar bahasa Indonesia tidak terkikis, kita dapat mulai dengan membiasakan diri menggunakan bahasa yang baik dan benar dalam situasi formal maupun akademik. Memanfaatkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai pedoman, serta membiasakan membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia yang sesuai kaidah dapat menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menjaga keutuhan bahasa kita.

Oleh : Arya VIIIC